Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Nobar Film G-30S/PKI Membludak, Sebagian Penonton Kecewa

adminpenrem 25/09/2017 0

Keerom. Pada tanggal 23-9-2017 bertempat di lapangan Kp Wonorejo PIR IV, Distrik Manem, Kab Keerom telah dilaksanakan pemutaran film pengkhianatan G-30S/PKI. Kegiatan nonton bareng masyarakat ini sesuai dengan instruksi Panglima TNI menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober 2017 dimana peristiwa ini terjadi adanya upaya pemberontakan terhadap pemerintah yang syah yang dilakukan oleh PKI dengan di awali penculikan dan penyiksaan hingga megakibatkan gugurnya tujuh Pahlawan Revolusi di Jakarta dan dua orang di Jogja pada tanggal 30 September 1965.

Diluar dugaan masyarakat yang hadir Nobar ini membludak hampir setengah lapangan (lebih dari 350 orang). Mereka rata-rata penasaran atas seruan atau himbauan Panglima TNI kepada seluruh jajaran TNI untuk melaksanakan kegiatan nonton bareng pemutaran film pengkhianatan G-30S/PK. Selain warga masyarakat, hadir juga para pelajar SMP dan SLTA yang sedang melaksanakn Perkemahan Saka Wira Kartika turut serta nonton bareng ini.

Sebelum diadakan pemutaran film di awali dengan sambutan oeh Kepala Kp Wonorejo PIR IV, Distrik Manem, Kab Keerom Bp Matheus Wey yang menekankan tentang pentingnya pemutaran film pengkhianatan G-30S/PKI yang bisa ditonton oleh semua warga masyarakat agar tidak melupakan sejarah kelam bangsa Indonesia.

“Sepak terjang PKI tidak bisa lepas dari sejarah kelam bangsa Indonesia, mereka telah melakukan pemberontakan dua kali yaitu th 1948 di Madiun dan 1965 di Jakarta dan daerah lainnya, mari kita sama-sama saksikan pemutaran film ini agar kita selalu waspada akan bahaya laten Komunis” kata Matheus Wey mengingatkan warganya.

Zaman orde baru menjelang tanggal 30 September TV nasional wajib memutar film pengkhianan G-30S/PKI, tetapi setelah berakhirnya masa orde baru film ini tidak ditayangkan lagi. Dengan adanya penayangan ini membuat masyarakat merasa disuguhi pelajaran sejarah bangsa Indonesia kelam yang hampir saja terlupakan.

Setelah penayangan film, sebagian masyarakat ada yang bertanya kenapa, film banyak yang di sensor dimana banyak adegan-adegan yang dihilangkan dan tidak sesuai dengan aslinya, tentunya hal ini membuat kecewa sebagian masyarakat karena film sudah tidak asli lagi, masyarakat menginginkan pemutaran film apa adanya. Hal ini menimbulkana pendapat masyarakat yang sangat beragam.

“Kok cepat sekali, biasanya (film) kurang lebih tiga jam, ini kok cuman satu jam. Banyak yang disensor lagi. Wah, kalau begini mereka (kelomok PKI) masih bisa diuntungkan. Bagaimana kebiadaban para PKI tidak terlihat disini ” kata Zaenudin warga PIR IV agak sedikit kecewa. Bagi masyarakat yang sudah pernah menonton film aslinya sebelum di sensor banyak yang mengeluhkan karenaa mereka beranggapan bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah sepahitapapun agar tidak terulang.

“Itu adegan penyiksaan tidak ada. Dulu ada yang di silet dibacok dan diseret, di film ini tidak ada lagi. Penculikan cuman seorang Jenderal saja, yang lain mana.  Padahal disinilah kita saksikan betapa kejam dan bengisnya PKI” ungkap Tursim warga setempat.

Berbeda dengan pendapat Veronika Guru SMP N 1 Arso, Kab Keerom yang mengajar bidang studi IPS. “Kalau saya setuju dengan film yang sekarang (versi TNI yang sudah melalui sensor), karena banyak anak yang ikut menonton film ini. Masak anak-anak kita suguhkan adegan yang beginian (adegan sadisme)” kata Veronika.

Setelah selesai pemutaran film pengkhianatan G-30S/PKI, Dansatgas Yonif 410/Alugoro Letkol Inf M Heri Amrullah, S.Sos. memberikan kuis kepada seluruh penonton khususnya para pelajar yang sedang melaksanakan Perkemahan Saka Wira Kartikas seputar isi dari flim G-30S/PKI dengan memberikan beberapa hadiah yang sangat menarik, sehingga para penonton semangat dan berebut untuk menjawab kuis yang disampaikan oleh Dansatgas. Para siswa diminta menyebutkan Pahlawan Revolusi, tetapi mereka banyak yang tidak bisa menjawab Hasil wawancara beberapa orang siswa dan siswi menurutnya belum di ajarkan di sekolah dan mereka baru kali ini menonton film ini dan di film tidak ditayangkan bagaimana proses penculikan para korban satu peratu.

 

Leave A Response »

*